Cara Menghitung Tetesan Infus Makro Dan Mikro


Rumus Tetesan Infus – Setiap ahli medis harus tahu bagaimana cara menghitung tetesan infus dengan tepat dan benar. Menghitung tetesan infus tidak boleh dilakukan sembarangan karena bisa sangat berbahaya. Untuk itu harus memakai dasar karena ada cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien.



Memang setiap pasien yang dehidrasi atau kehilangan cairan bisa dikembalikan lagi dengan cara memberikan infus yang didalamnya terdapat natrium.

Tujuan dari penggunaan infus tersebut supaya cairan pada tubuh seseorang bisa tetap normal, namun tentu saja ada tata caranya dan anda sebagai seseorang yang terjun di dunia kesehatan harus tahu bagaimana perhitungan tetesan infus.

Jika pasien kehilangan cairan maka bisa diperbaiki dalam waktu 2 hari, untuk hari pertama bisa dimasukkan melalui mulut dan anus per infus. Jika diberikan infus dengan tetesan yang terlalu cepat maka cukup berbahaya karena bisa menyebabkan keracunan dan kejang. Untuk itulah kita harus benar-benar teliti dalam memberikannya.

Pada kesempatan kali ini kita bahas lebih lanjut mengenai cara menghitung tetesan infus. Akan tetapi selain mengetahui bagaimana menghitung tetesan infus yang benar, kita juga perlu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan infus. Mari kita bahas lebih lanjut, diawali dengan membahas definisi infus.

Baca juga: Cara Menghitung Denyut Nadi

Apa itu Infus

Pertama-tama kita harus mengetahui apa itu infus. Bagi orang awam infus merupakan sebuah cairan yang disimpan dalam sebuah kantong khusus dan diberikan kepada pasien lewat jarum suntik. Akan tetapi penjabaran mengenai apa itu infus bisa lebih luas lagi.



Lebih lengkapnya infus adalah sebuah metode pemberian cairan dan obat yang dilakukan langsung lewat pembuluh darah. Cairan yang diberikan lewat infus berfungsi sebagai cairan resusitasi atau cairan pemeliharaan. Cairan ini biasanya diberikan kepada pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Seperti yang diketahui, cairan infus atau intravenous fluid disimpan dalam suatu kantong atau botol steril. Wadah ini nantinya dialirkan lewat selang menuju pembuluh darah. Jumlah cairan dan jenis cairan infus yang digunakan tentu tidak boleh sembarangan, harus berdasarkan beberapa faktor. Seperti kondisi pasien, tujuan pemberian cairan infus, hingga ketersediaan cairan.

Infus digunakan tidak hanya untuk pemberian cairan saja. Akan tetapi juga bisa dilakukan sebagai metode pemberian obat secara parenteral. Mungkin Anda pernah menjumpai perawat yang menyuntikkan cairan khusus ke selang infus.



Sebagai informasi, parenteral merupakan metode pemberian nutrisi, obat, maupun cairan lewat pembuluh darah. Penggunaan metode parenteral juga disesuaikan dengan kondisi pasien secara keseluruhan, jenis nutrisi atau obat yang dibutuhkan, penyakit yang dialami, dan beberapa faktor lainnya.

Tujuan Pemberian Cairan Infus

Cairan infus bukanlah sembarang cairan. Sebab di dalamnya terdiri dari air dengan kandungan elektrolit, gula, ataupun obat-obatan tertentu yang nantinya diberikan kepada pasien sesuai dengan kondisi yang diderita. Maka dari itu pemberian cairan infus ini kepada pasien tetap ada aturan tersendiri. Akan tetapi secara umum berikut tujuan dari pemberian cairan infus:

  1. Untuk pasien yang mengalami kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi karena sakit atau melakukan aktivitas secara berlebihan.
  2. Untuk pengobatan yang disebabkan oleh infeksi dengan memakai antibiotik.
  3. Untuk pengobatan kemoterapi.

Kondisi Umum yang Membutuhkan Infus

Sudah dijelaskan di atas bahwa pemberian infus harus sesuai dengan aturan. Di sisi lain ada cukup banyak jenis infus yang bisa digunakan. Sehingga pemilihan jenis infus harus tepat berdasarkan kondisi medis, kadar gula darah, kadar elektrolit, hingga usia pasien. Ada beberapa kondisi umum yang biasanya memerlukan terapi infus. Berikut kondisi-kondisi umum tersebut:

  1. Dehidrasi berat
  2. Serangan jantung
  3. Stroke
  4. Keracunan
  5. Syok
  6. Kanker
  7. Malnutrisi parah
  8. Infeksi parah atau sepsis
  9. Penurunan kesadaran atau koma
  10. Pasien dengan gangguan fungsi organ, misalnya gagal hati atau gagal ginjal
  11. Gangguan pencernaan, seperti tukak lambung, diare berat, atau pendarahan saluran cerna

Di atas merupakan kondisi umum di mana pasien akan membutuhkan terapi infus. Kendati demikian tidak menutup kemungkinan ada kondisi-kondisi lain di luar yang disebutkan di atas yang juga memerlukan terapi infus. Misalnya luka bakar parah, persiapan sebelum operasi besar, cedera berat, dan lain sebagainya.



Untuk diketahui, pemberian jenis cairan infus dan dosis ditentukan oleh dokter. Sedangkan pemasangannya dibantu oleh perawat. Terapi infus yang dilakukan oleh dokter atau perawat di klinik ataupun rumah sakit umumnya aman, namun tidak menutup kemungkinan munculnya efek samping akibat terapi infus. Efek samping tersebut seperti reaksi alergi, infeksi, dan lain-lain.

Faktor Tetes Mikro dan Makro

Dala pemberian cairan infus ada 2 faktor tetes yang dipakai untuk menghitung kebutuhan cairan. Yakni faktor tetes makro atau Macro Drip dan faktor tetes mikro atau Micro Drip. Berikut penjelasan singkat keduanya.

Faktor Tetes Makro (Macro Drip)

  • Macro drip yang ada di Indonesia hanya ada dua macam, tergantung merek infus set dan faktor tetesnya.
  • Infus set buatan Otsuka memiliki faktor tetes 15 tetes/ml.
  • Infus set merek Terumo menggunakan faktor tetes sebesar 20 tetes/ml.
  • Faktor tetes 10 tetes/ml jarang digunakan di Indonesia. Akan tetapi faktor tetes ini bisa dijumpai di beberapa fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit umum pusat, rumah sakit pendidikan, dan rujukan nasional.
  • Faktor tetes makro umumnya dipakai untuk menghitung jumlah kebutuhan cairan pada pasien dewasa.
  • Dalam hal transfusi darah biasanya memanfaatkan faktor tetes 15 tetes/ml.

Faktor Tetes Mikro (Micro Drip)

  • Umumnya faktor tetes yang disebut micro drip adalah 60 tetes/ml.
  • Anak dengan berat badan kurang dari 7 kg memerlukan infus set dan faktor tetes yang berbeda dari orang dewasa.

Istilah dalam Pemasangan Infus



Leave a Comment