Cara Menghitung Bunga Deposito Semua Bank


Cara Menghitung Bunga Deposito – Saat ini bank menjadi salah satu bagian yang tidak terlepas dari masyarakat. Ada yang memanfaatkan bank sebagai media penyimpanan uang namun ada juga yang melakukan peminjaman dari bank namun tentunya ada bunga kredit yang harus dibayar setiap bulannya.

Kredit serta suku bunga simpanan sebenarnya sudah disampaikan oleh pihak bank, namun tetap saja ada beberapa orang yang tidak mempedulikannya sehingga kurang begitu paham mengenai hal tersebut. Namun lebih baik anda tetap tahu tentang suku bunga supaya bisa bermanfaat di kemudian hari.

Pengertian Deposito

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai cara menghitung bunga deposito, kita harus mengetahui apa itu deposito dan berbagai hal yang menyangkut deposito. Perlu diketahui dalam istilah keuangan deposito adalah uang yang disimpan di bank dalam kurun waktu tertentu yang sudah disepakati antara nasabah dan bank selaku pemegang otoritas.

Selain itu deposito juga dapat diartikan sebagai transaksi yang melibatkan transfer uang ke pihak lain untuk diamankan. Deposito juga bisa bermakna sebagian uang yang dimanfaatkan sebagai jaminan atau jaminan untuk pengiriman barang.

Deposito merupakan produk perbankan yang termasuk dalam kategori investasi. Sedangkan produk perbankan yang termasuk dalam kategori simpanan bank yakni tabungan berjangka/tabungan berencana. Secara fungsi keduanya terdengar mirip namun berbeda.

Karena merupakan produk investasi, deposito dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi daripada tabungan. Hanya saja nasabah tidak bisa mengambilnya sewaktu-waktu. Biasanya deposito menjadi pilihan orang karena memiliki risiko profil yang tidak tinggi dan dijamin oleh LPS.

Baca juga: Cara Menghitung Bunga Pinjaman

Deposito Konvensional dan Syariah

Sejauh ini pihak bank menawarkan jenis tabungan dan deposito kepada masyarakat melalui dua bentuk yakni secara konvensional dan secara syariah. Yang membedakan adalah pemberian manfaatnya bagi nasabah bank tersebut.

Pada rekening tabungan konvensional cenderung menggunakan skema wadi’ah atau titipan. Artinya apabila anda menitipkan sejumlah uang Anda pada bank tersebut, pihak bank akan memberikan keuntungan atau laba yang berupa bunga kepada Anda sebagai nasabahnya.

Sementara pada semua produk bank syariah baik tabungan maupun deposito telah dijamin terhindar dari praktek riba. Hal itu dikarenakan bank syariah menggunakan skema mudharabah atau bagi hasil. Disini Anda sebagai pemilik modal menaruh sejumlah uang pada bank tersebut yang kemudian pihak bank akan menyalurkan kembali ke pembiayaan (kredit).

Yang menjadi pertanyaan dari mana keuntungannya? Keuntungan dari skema ini didapatkan melalui penyaluran-penyaluran sebelumnya. Kemudian dibagi berdasarkan bagian tertentu, sesuai proporsi masing-masing.

Jenis Deposito

Deposito mempunyai beberapa jenis yang perlu diketahui sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada deposito. Seperti yang sudah diketahui, deposito mempunyai jangka waktu jatuh tempo. Sehingga sebelum mencapai jatuh tempo tersebut nasabah tidak bisa menarik dananya atau akan terkena charge ketika ingin menariknya.

Durasi jatuh tempo deposito ini bisa bermacam-macam, ada yang 3, 6, 9, hingga 12 bulan. Di samping itu deposito juga bisa diperpanjang secara otomatis dengan sistem Automatic Roll Over (ARO). Di Indonesia kita mengenal 3 jenis deposito, yakni deposito berjangka, sertifikat deposito, dan deposito on-call. Berikut penjelasan ketiganya.

Deposito Berjangka

Deposito ini merupakan yang paling familiar bagi masyarakat. Deposito berjangka merupakan jenis tabungan berjangka yang penarikannya hanya bisa dilakukan saat tertentu. Deposito jenis ini dapat diterbitkan atas nama perorangan ataupun lembaga.

Pada deposito berjangka pihak bank akan memberikan bunga ke tabungan deposito nasabah. Yang membuatnya menarik adalah tingginya tingkat bunga yang diberikan oleh bank dibandingkan pada tabungan biasa. Hanya saja sesuai dengan namanya, pada deposito berjangka nasabah diharuskan untuk menyimpan dananya selama jangka waktu tertentu. Lalu uang tersebut hanya dapat diambil saat jatuh tempo oleh pihak yang tertera pada bilyet.

Sertifikat Deposito

Sertifikat deposito adalah sertifikat yang tidak mengacu pada nama seseorang atau lembaga tertentu. Oleh karenanya sertifikat deposito dapat dipindahtangankan atau bahkan diperjualbelikan.

Deposito On Call

Jenis deposito ketiga adalah deposito on call. Deposito ini merupakan tabungan berjangka dengan waktu penyimpanan yang singkat. Yakni minimal 7 hari dan paling lama kurang dari 1 bulan. Akan tetapi deposito on call ditujukan khusus dalam jumlah yang besar.

Pengelolaan Bunga Deposito 

Dalam mempertimbangkan deposito mana yang dipilih kita juga harus mencermati bagaimana pengelolaan bunga deposito pada suatu bank. Sebab kebijakan masing-masing bank umumnya berbeda. Hal ini tentu berdampak pada bagaimana nasabah mendapatkan bunga deposito. 

Setidaknya ada tiga macam pengelolaan bunga deposito yang bisa diperhatikan. Berikut penjelasan selengkapnya.

Non-Automatic Roll Over (Non ARO)

Pada sistem Non-Automatic Roll Over (Non-ARO) ini, bunga yang telah dihasilkan dapat diambil tiap bulannya. Atau hasil tersebut akan langsung masuk pada rekening yang telah Anda tentukan sebelumnya secara otomatis.

Automatic Roll Over (ARO)

Sesuai dengan namanya, deposito yang memanfaatkan Automatic Roll Over memakai sistem perpanjangan secara otomatis. Sebagai contoh, Anda telah mendepositokan sejumlah uang senilai Rp 10.000.000 dalam kurun waktu 12 bulan. Akan tetapi jika sudah mencapai 12 bulan tidak ada penarikan uang, dana yang didepositokan tersebut akan masuk ke 12 bulan berikutnya secara otomatis. Sedangkan untuk bunga yang dihasilkan Anda dapat menentukan sendiri, apakah Anda akan mengambil setiap bulannya atau hanya akan diambil ketika telah jatuh tempo.

Automatic Roll Over Plus (ARO+)

Sistem ARO+ ini sebenarnya hampir mirip dengan sistem ARO. Hanya saja perbedaannya terletak pada objek yang diperpanjang. Pada ARO+ yang diperpanjang adalah deposito beserta bunganya.

Menghitung Bunga Deposito

Sebenarnya perhitungan bunga simpanan atau kredit dilakukan setiap hari, namun tetap dibukukan per bulan. Dengan begitu bunga dilakukan berdasarkan saldo atau utang saldo yang pada tiap akhir hari namun untuk pembukuan bunga tetap dilakukan sebulan sekali.

Untuk bunga simpanan yang harus dibayarkan pihak bank kepada nasabah sebesar 20 persen. Nah untuk anda yang masih bingung bagaimana mengetahui dan cara menghitung bunga deposito bisa menuju tabel kalkulator bunga bank yang saya berikan berikut ini:

 

Kalkulator Bunga Deposito

 

Bunga Per Tahun (%) Nominal Deposito (Rp) Bunga Per Bulan (Rp)

Apabila perhitungan kalkulator di atas tidak dapat berfungsi dengan baik bisa menuju tautan Berikut.

  • Perhitungan Kalkulator diatas berdasarkan rumus :

Bunga = Nominal Deposito x bunga per tahun (%) x ( jumlah hari dalam sebulan(30) : jumlah hari dalam setahun(365) ) x 80%

  • Contoh :

Anda mendepositokan uang sebesar 10 juta rupiah disebuah bank dengan bunga 6,13% per tahun, maka perhitungannya : 10.000.000 x 6,13 x (30 : 365) x 80% = Rp 40.307
Jadi, bunga yang Anda dapatkan perbulan adalah Rp 40.307

  • Anda juga dapat menghitung menggunakan rumus berikut :

Rumus untuk menghitung bunga simpanan

Bunga Simpanan = (Saldo x suku bunga % x hari) /365

Rumus untuk menghitung bunga kredit

Bunga kredit = (Saldo x suku bunga % x hari) /360

Contoh-contoh :

1. Saldo tabungan nasabah A di bank XYZ pada tanggal 01/08/2014 adalah sebesar Rp 10.000.000,- dengan tingkat suku bunga 2% p.a., maka bunga tabungan nasabah A untuk hari itu adalah adalah?

Bunga: (Rp 10.000.000,-  x 2% x 1) / 365 =  Rp 547,95 Pajak bunga: Rp 547,95 x 20% = 109,59 . Jadi keuntungan bunga nett (setelah dikurangi pajak) yang diterima nasabah untuk saldo Rp 10.000.000 dalam satu malam: Rp 547,95 – 109,59 = Rp 438,36

(Bunga dan pajak tidak akan dibukukan ke rekening nasabah setiap hari, tapi pada satu tanggal tertentu setiap bulan)

2. Nasabah B memiliki deposito sejumlah Rp 100.000.000,- di bank XYZ dengan jangka waktu 3 bulan dari 01/06/2014 s/d 01/09/2014. Dengan suku bunga simpanan 5,5% p.a. maka saat jatuh tempo, bunga yang diterima nasabah B adalah?

Karena jumlah saldo mengendap tiap malam dari tanggal 01/06/2014 s/d 01/09/2014 selalu sama, maka perhitungan bunganya sekaligus untuk 92 hari:

Bunga: (Rp 100.000.000,- x 5,5% x 92) / 365 = Rp 1.386.301,37 Pajak bunga: Rp 1.386.301,37 x 20% = Rp 277.260,27

Bunga setelah pajak yang diterima nasabah saat jatuh tempo tanggal 01/09/2014 adalah: Rp 1.386.301,37 – Rp 277.260,27 = Rp 1. 109.041,10

3. Baki debet (outstanding) pinjaman nasabah C di bank XYZ dari tanggal 26/07/2014 s/d 25/08/2014 adalah Rp 500.000.000,- Jika suku bunga pinjaman adalah 12,5% maka beban bunga yang harus dibayar pada saat jatuh tempo pembayaran bunga bulanan tanggal 26/08/2014 adalah?

Bunga: (Rp 500.000.000 x 12,5% x 31) / 360 = Rp 5.381.944,44

Dengan menggunakan kalkulator atau rumus diatas setidaknya kita bisa mengetahui bunga secara jelas dan pastinya tidak ribet. Nah itulah tadi informasi yang sudah saya sampaikan mengenai bagaimana cara menghitung suku bunga bank secara akurat dengan kalkulator maupun rumus.

Keuntungan Deposito

Deposito merupakan salah satu produk investasi yang sangat familiar di kalangan masyarakat, khususnya nasabah suatu bank. Sebelum memilih investasi deposito, tentu ada beberapa hal yang dipertimbangkan, termasuk keuntungan atau profit yang didapatkan oleh nasabah. Apa saja kelebihan deposito? Simak penjelasan di bawah ini.

Bunga relatif besar

Jika dibandingkan dengan menabung biasa, suku bunga yang didapatkan dari deposito lebih besar. Pihak bank nantinya akan menentukan berapa bunga dari dana nasabah tiap triwulan atau per tahun, tergantung jangka waktu deposit Anda. Semakin lama waktunya, maka bunga yang didapatkan juga bisa lebih banyak.

Keamanan uang terjamin

Menyimpan uang di bank menjadi salah satu cara yang aman untuk menjaga uang kita. Hal ini juga berlaku saat Anda membuka rekening deposito. Lain halnya jika Anda hanya menyimpan uang dirumah, maka uang rawan dicuri oleh orang lain atau hilang karena bencana.

Risiko Minim

Deposito memiliki tingkat resiko yang cukup rendah, atau bahkan tidak ada sama sekali. Oleh karenanya deposito merupakan pilihan yang tepat apabila Anda adalah orang yang tidak ingin mengambil risiko besar saat berinvestasi.

Akses bunga tergolong mudah

Pihak bank akan memberikan akses yang mudah dalam pengelolaan bunga. Dimana bunga yang Anda dapatkan dari deposito dapat dicairkan secara tunai dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Selain itu, Anda dapat mentransfer atau menyetorkan bunga yang Anda peroleh ke rekening Anda sendiri.

Saat Anda ingin menginvestasikannya kembali, maka Anda akan menggunakan sistem Automatic Roll Over (ARO). Yang menurut perhitungannya,  bunga yang diperoleh akan semakin besar dikarenakan terjadinya bunga majemuk.

Investasi yang menguntungkan

Ketika Anda memutuskan untuk berinvestasi, ketika itu pula Anda harus mempersiapkan diri akan kemungkinan kerugian yang mungkin tidak sedikit. Akan tetapi tidak semua instrumen investasi berisiko tinggi, contohnya deposito. Karena berbagai kerugian yang timbul akan dijamin oleh lembaga penyimpanan. Maka dari itu Anda tidak perlu khawatir terhadap potensi kerugian atas deposito Anda.

Kekurangan deposito

Setiap keputusan tentu memiliki resiko. Begitu juga apabila Anda memutuskan berinvestasi pada suatu produk tertentu, dalam hal ini deposito. Walaupun memberikan beberapa keuntungan deposito juga memiliki sejumlah kekurangan. Jika sebelumnya telah dibahas berbagai keuntungan yang diperoleh dari deposito, kini kita bahas kekurangannya.

Keuntungan kecil

Keuntungan yang didapatkan dari deposito tidak selalu sebanding dengan jumlah uang yang telah didepositokan. Sebenarnya pihak bank telah memberikan keuntungan melalui bunga yang cukup besar. Hanya saja dibandingkan produk investasi lainnya, deposito masih tergolong produk investasi dengan keuntungan yang kecil.

Sebagai contoh, ketika Anda memutuskan untuk mendepositokan uang sebesar Rp 100 juta, lalu bunga yang didapatkan sekitar 5-6 persen saja (berdasarkan besaran bunga rata-rata dari deposito di beberapa bank di Indonesia).

Jika dihitung, dana sebesar Rp 100 juta yang telah Anda depositokan tersebut, bunga yang Anda peroleh hanya sekitar Rp 2 jutaan. Keuntungan ini pun juga belum dipotong biaya tambahan lainnya, termasuk pajak dan biaya administrasi.

Akan tetapi berbeda jika Anda memilih berinvestasi pada saham. Keuntungan yang Anda peroleh pada periode tertentu bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan deposito.

Bisa terkena inflasi

Terjadinya inflasi setiap tahunnya, juga berpengaruh terhadap uang yang kita depositokan. Hal itu dikarenakan harga bahan pokok mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Alhasil nilai uang yang telah kita depositokan saat ini juga bisa mengalami perubahan pada tahun selanjutnya atau cenderung mengalami penurunan nilai.

Misalnya, pada saat ini Anda mendepositokan uang sebesar Rp 10 juta. Maka pada 3 tahun mendatang nilai uang Rp 10 juta tersebut tidak akan sama dengan nilai uang saat ini karena efek inflasi yang membuat harga kebutuhan pokok meningkat dan menurunkan nilai uang yang kita miliki.

Dipotong pajak

Pajak penghasilan (PPH) juga diberlakukan terhadap tabungan dalam bentuk deposito. Oleh karenanya kita diwajibkan membayar pajak setiap tahunnya. Biaya pajak PPh pada deposito juga tergolong cukup besar, yaitu sebesar 20 persen. Pajak PPh tersebut biasanya akan memotong bunga yang didapatkan oleh nasabah. Hal tersebut tetap berlaku meskipun bunga yang Anda dapatkan tidak terlalu besar.

Ada biaya penalti

Nasabah yang mendepositokan uangnya juga bisa terkena biaya penalti. Biasanya biaya penalti dibebankan kepada nasabah jika yang bersangkutan menarik depositonya sebelum tanggal jatuh tempo yang telah disepakati sebelumnya.

Nilai investasi tidak bertambah

Dalam deposito nasabah tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan uang yang sudah didepositokan. Dengan kata lain tidak ada cara lain untuk meningkatkan nilai investasi nasabah. Sehingga nasabah tidak dapat menargetkan adanya tambahan keuntungan dari investasi selain bunga yang diperoleh dari bank.

Perbedaan Deposito Dengan Tabungan

Secara umum deposito dan tabungan adalah dua hal yang saling berkaitan. Keduanya merupakan produk perbankan yang ditawarkan kepada masyarakat sebagai sarana menginvestasikan uang. Meskipun berkaitan, kedua produk tersebut sebenarnya memiliki perbedaan.

Maka dari itu lebih baik Anda mengetahui terlebih dahulu perbedaan dari tabungan dan deposito sebelum memutuskan memilih salah satu dari keduanya. Hal tersebut diharapkan agar Anda dapat memaksimalkan produk bank Anda pilih.

Agar mengetahui lebih lanjut mengenai perbedaan tabungan dan deposito, simak penjelasannya dibawah ini.

Bunga

Jika Anda memprioritaskan besarnya bunga, makan deposito merupakan pilihan yang tepat. Karena bunga yang diberikan pihak bank pada tabungan lebih rendah jika dibandingkan dengan bunga yang diberikan pada deposito. 

Sebagai contoh, ketika Anda menyimpan uang Anda dalam tabungan biasa, bunga yang didapat di bawah 1 persen. Sedangkan jika memilih mendepositokan uang Anda, maka bunga yang Anda dapatkan bisa sampai 7 persen. Jadi laba bunga pada deposito terhitung lebih besar dibanding dengan tabungan yang biasa.

Biaya administrasi

Pada tabungan biasa kita diharuskan untuk membayar biaya administrasi. Biasanya akan secara otomatis dipotong tiap bulannya dari saldo rekening. Lain halnya dengan deposito. Nasabah umumnya tidak dikenakan biaya administrasi. Hanya saja Anda diwajibkan membayar pajak penghasilan (PPh) setiap tahunnya.

Waktu penarikan

Penarikan pada tabungan biasa dapat dilakukan kapan saja tanpa ada batasan waktu. Namun pada deposito Anda tidak bisa melakukan penarikan secara mendadak sebelum jatuh tempo yang telah ditentukan, atau sesuai dengan tenor yang telah disepakati. Jika Anda terpaksa melakukan penarikan maka Anda harus membayar biaya penalti.

Jenis produk

Dilihat dari jenisnya, tabungan termasuk dalam jenis produk simpanan biasa dan deposito termasuk dalam jenis produk investasi. Dimana dalam berinvestasi memerlukan jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan sebelum kita bisa mendapatkan uang kita kembali. Pada dasarnya deposito sama seperti investasi reksadana, saham, atau properti. Hanya saja deposito lebih minim risiko.

Buku tabungan

Pihak bank akan memberikan buku tabungan dan ATM jika anda memilih menyimpan uang Anda pada tabungan biasa. Namun Anda hanya akan mendapatkan bilyet deposito jika Anda memilih deposito sebagai sarana menyimpan uang Anda. Bilyet tersebut dapat dijadikan bukti bahwa Anda telah pemilik uang yang telah didepositokan.

Deposito untuk investasi, tabungan untuk menabung

Rata-rata masyarakat memilih deposito sebagai sarana untuk menyimpan dana darurat, dana pendidikan, hingga dana masa depan. Alasannya deposito mempunyai risiko yang sangat rendah. Selain itu deposito cenderung mudah dipahami dibandingkan dengan berinvestasi pada saham, reksadana, atau bahkan obligasi.

Deposito merupakan langkah awal yang tepat bagi Anda yang baru mulai berinvestasi, maupun yang sudah berpengalaman dalam investasi. Karena deposito bisa dimanfaatkan sebagai diversifikasi produk investasi untuk meminimalisir terjadinya resiko.

Dilihat dari hal tersebut jelas bahwa deposito berbeda dengan tabungan biasa atau tabungan berjangka. Kedua nya bukan merupakan bentuk dari investasi. Sebab tabungan mempunyai  suku bunga yang kecil, penarikan dana yang fleksibel, dan adanya biaya administrasi tiap bulannya.

Tips Memilih Deposito Bank

Walaupun mempunyai risiko yang kecil, memilih deposito bank menjadi persoalan tersendiri. Terutama jika Anda merupakan pemula yang baru mulai belajar berinvestasi. Mungkin Anda sudah mengetahui bahwa sekarang ada cukup banyak bank yang menawarkan deposito kepada nasabahnya.

Hal tersebut terkadang membuat kita bingung ingin pilih yang mana. Ada beberapa parameter yang bisa kita pakai untuk menentukan deposito bank yang baik menurut kita. Berikut beberapa tips yang bisa Anda simak.

Pilih Bank dengan Reputasi Baik

Salah satu cara teraman untuk mendepositokan dana pribadi adalah dengan memilih bank yang terpercaya. Sehingga Anda yakin dana Anda aman dari risiko yang merugikan Anda. Selain itu pastikan bahwa bank tersebut memenuhi standar yang diatur oleh Bank Indonesia. Dan pastikan bank tersebut telah terdaftar dan diawasi oleh OJK.

Sesuaikan Jangka Waktu Deposito

Jangka waktu deposito cukup beragam. Mulai dari 1 bulan, 1 tahun, sampai 2 tahun. Maka dari itu kita perlu menentukan jangka waktu deposito sesuai kebutuhan, dengan memperhatikan suku bunga bank deposito.

Fitur yang Ditawarkan

Deposito ditawarkan dengan beberapa fasilitas. Seperti perpanjangan otomatis atau Automatic Roll Over. Anda bisa memaksimalkan fitur-fitur atau fasilitas yang ditawarkan oleh bank terkait deposito.

Cermati Bunga Deposito

Masing-masing bank mempunyai ketentuan tersendiri mengenai suku bunga yang diberikan kepada nasabah yang melakukan deposito. Semakin besar suku bunganya maka juga akan semakin besar keuntungan yang diperoleh nasabah. Anda bisa memilih bank yang bisa memberikan bunga lebih tinggi dari bank-bank lainnya.

Walaupun begitu Anda tetap harus berhati-hati jika suku bunga deposito yang ditawarkan oleh bank sangat besar. Atau lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang ditentukan oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).

Perhatikan Biaya Lainnya

Masing-masing bank mempunyai aturan tersendiri mengenai deposito. Termasuk biaya-biaya yang dibebankan kepada nasabahnya. Seperti yang sudah disinggung di atas, nasabah bisa terkena biaya penalti jika mengambil dana sebelum jangka waktu yang disepakati. Akan tetapi juga ada bank yang mengizinkan nasabah untuk mengambil simpanan tanpa bunga sebelum jangka waktunya.

Di sisi lain biaya administrasi deposito juga bisa berbeda-beda. Sehingga Anda perlu memperhatikannya, tak terkecuali pajak yang akan dipotong dari nilai deposito.

Baca juga: Cara Menghitung SHU Koperasi

Pilihan Deposito Terbaik

Di Indonesia ada cukup banyak bank yang bisa kita pilih untuk melakukan deposito. Jika Anda bingung ingin pilih yang mana, Anda bisa melihat referensi di bawah ini:

 BNI Deposito 

  • Setoran awal deposito rupiah Rp 10 juta 
  • Setoran awal deposito valas USD 1.000 
  • Suku bunga deposito rupiah sekitar 3% – 3,25%, dan 0,30% – 0,50% untuk deposito valas 
  • Dijamin LPS 
  • Tenor 1, 3, 6, 12, atau 24 bulan 
  • Dapat diperpanjang secara otomatis ARO, atau tidak otomatis Non-ARO 

Cara buka BNI Deposito: 

  • Mengisi formulir aplikasi pembukaan rekening 
  • Menunjukkan asli dan fotokopi KTP/SIM/Paspor 
  • Untuk Badan Usaha ditunjukkan dengan bukti legalitas 
  • Menyetor uang pembukaan rekening. 

Deposito Berjangka BCA 

  • Setoran awal deposito rupiah Rp 8 juta 
  • Setoran awal deposito valas USD 1.000 
  • Jangka waktu 1, 3, 6, atau 12 bulan dan dipilih sesuai keinginan
  • Bisa diperpanjang otomatis ARO, non-ARO, dan ARO Plus 
  • Suku bunga sekitar 3% 

Cara buka BCA Deposito: 

  • Melengkapi dan menandatangani formulir pendaftaran 
  • Membawa dan menyerahkan fotokopi KTP/Paspor dan NPWP untuk WNI, atau KITAS/Paspor untuk WNA 
  • Memenuhi setoran awal minimum. 

Deposito Berjangka DBS Indonesia 

  • Setoran awal deposito rupiah Rp 10 juta 
  • Setoran awal deposito valas USD 10 ribu 
  • Suku bunga sekitar 3% – 4,05% 
  • Jangka waktu 1 hari sampai 36 bulan 
  • Dana bisa ditarik sebelum jatuh tempo tanpa biaya penalti 

Cara buka Deposito Berjangka DBS: 

  • Isi formulir permohonan rekening deposito berjangka dengan menghubungi pusat layanan nasabah Bank DBS Indonesia. 

Deposito BTN Ritel Rupiah 

  • Setoran awal deposito Rp 1 juta 
  • Suku bunga sekitar 3,50% sampai 3,75% 
  • Jangka waktu 1, 2, 3, dan 6 bulan 
  • Ada bilyet deposito (sertifikat) 
  • Bunga deposito dapat dipindahbukukan untuk bayar cicilan KPR, tagihan listrik dan telepon 

Cara buka Deposito BTN: 

  • Memiliki rekening tabungan BTN Batara untuk debet dan pencairan 
  • WNI 17 tahun, NPWP, surat keterangan domisili atau surat keterangan kerja 
  • WNA KITAS/KITAP 
  • Mengisi dan menandatangani formulir pembukaan rekening 
  • Menyetor uang dan menyerahkan dokumen kepada CS di kantor cabang BTN. 

Deposito BRI 

  • Setoran awal deposito rupiah BRI di kantor cabang minimal Rp 10 juta 
  • Setoran awal jika membuka rekening deposito melalui internet banking BRI minimal Rp 5 juta, maksimal Rp 100 juta 
  • Suku bunga sekitar 3,25% 

Cara buka Deposito BRI Rupiah: 

  • WNI membawa KTP/SIM/Paspor asli dan NPWP (jika ada) 
  • SIUP, NPWP, akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang terakhir 
  • Kunjungi kantor cabang BRI terdekat.

Sekian yang bisa kami sampaikan mengenai cara menghitung bunga deposito dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan deposito. Semoga yang kami sampaikan di atas bermanfaat untuk Anda.



Leave a Comment