Cara Menghitung Upah Lembur Yang Benar

Saturday, June 10th, 2017 - Wirausaha

Selamat datang di situs kami yang mengulas berbagai macam informasi terkait dengan cara menghitung dari berbagai disiplin ilmu yang mungkin Anda butuhkan, Cara Menghitung Upah Lembur Yang Benar.

Hitungan Lembur – Dalam setiap pekerjaan di perusahaan ataupun perkantoran ada yang namanya lembur atau sering disebut juga dengan over time, istilah ini merupakan bekerja melebihi batas namun sudah diatur oleh undang-undang sehingga setiap lembur pasti akan memperoleh upah tersendiri.

Untuk itu dalam kesempatan kali ini saya akan memberikan informasi mengenai cara menghitung lembur supaya Anda tidak merasa rugi karena kelebihan atau kekurangan waktu lembur.

Biasanya lembur menjadi hal yang sangat tidak diinginkan bagi para pekerja karena sudah pasti akan pulang lebih lambat namun sebagian orang lagi mengangkat lembar adalah keuntungan tersendiri karena bisa memperoleh tambahan uang.

Lembur juga dilakukan untuk tujuan mengejar target produksi, namun apapun itu alasannya anda sebagai manajer harus mengetahui regulasi serta ketentuan yang mengatur tentang mekanisme pelaksanaan lembur tersebut.

Penyebab terjadinya lembur (Overtime) bisa dikarenakan oleh :

1. Adanya pesanan (order) yang melebihi kapasitas produksi pada waktu kerja normal, sehingga diperlukan jam tambahan.

2. Kurangnya tenaga terja yang menyebabkan tenaga kerja lainnya harus mengerjakan pekerjaan yang lebih untuk menutupi kekurangan tersebut.

3. Adanya kerusakan mesin atau peralatan produksi maupun permasalahan lainnya yang mengganggu kelancaran produksi.

4. Kekurangan material pada saat waktu produksi sehingga diperlukan waktu kerja lebih untuk menutupi kekurangan jumlah produksi saat material tiba.

5. Rendahnya produktivitas kerja.

Di Republik Indonesia, jam kerja seorang karyawan diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan khususnya pada Pasal 77 ayat 1 dengan bunyi sebagai berikut :

1. 7 (tujuh) Jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau

2. 8 (delapan) Jam 1 (hari) dan 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

Perhitungan Overtime (Lembur) juga diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dengan No. KEP.102/MEN/VI/2004. Dalam Pasal 8 yang mengatur perhitungan upah lembur bulan mengatakan :

1. Perhitungan upah lembur didasarkan pada upah bulanan.

2. Cara menghitung upah sejam adalah 1/173 kali upah sebulan.

Rata-rata perusahaan yang bergerak dibidang perakitan elektronik meng-adopsi sistem upah bulanan, sehingga yang perlu kita ketahui adalah cara menghitung upah lembur dengan sistem upah bulanan.

Cara perhitungan upah kerja lembur berdasarkan Pasal 11 sebagai berikut :

Apabila kerja lembur dilakukan pada hari kerja :

  • untuk jam kerja lembur pertama harus dibayar upah sebesar 1,5 (satu setengah) kali upah sejam;
  • untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah sebesar 2(dua) kali upah sejam.

Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja 6 (enam) hari kerja 40 (empat puluh) jam seminggu maka :
a. perhitungan upah kerja lembur untuk 7 (tujuh) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, dan jam kedelapan dibayar 3 (tiga) kali upah sejam dan jam lembur kesembilan dan kesepuluh dibayar 4 (empat) kali upah sejam.

b. apabila hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek perhitungan upah lembur 5 (lima) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, jam keenam 3(tiga) kali upah sejam dan jam lembur ketujuh dan kedelapan 4 (empat) kali upah sejam.

Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan atau hari libur resmi untuk waktu kerja 5 (lima) hari kerja dan 40 (empat puluh) jam seminggu, maka perhitungan upah kerja lembur untuk 8 (delapan) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, jam kesembilan dibayar 3(tiga) kali upah sejam dan jam kesepuluh dan kesebelas 4 (empat) kali upah sejam.

Mengapa harus dibagi 173 ?

173 adalah Rata-rata Jam Kerja dalam sebulan, berikut ini cara perhitungannya :

Jam Kerja per Minggu : 40 Jam
Jumlah minggu dalam setahun : 52 minggu
Jadi Jam kerja per tahun : 2080 Jam (40 x 52)
Rata-rata Jam Kerja per bulan : 173 (2080 Jam/12 bulan)

Contoh Kasus Perhitungan Upah Lembur

Contoh Kasus I

Seorang operator produksi dengan gaji bulanan Rp 3.000.000,- diminta oleh perusahaan melakukan Lembur (overtime) pada hari kerja biasa (contohnya Hari Senin) selama 4 Jam. Berapakah upah lembur yang harus dibayar oleh perusahaan?

Upah Lembur per Jam : Rp 17.341 (Rp 3.000.0000 / 173)
Jam Pertama  : Rp 26.011 (Rp 17.341 x 1,5)
Jam Kedua      : Rp 34.682 (Rp 17.341 x 2)
Jam Ketiga      : Rp 34.682 (Rp 17.341 x 2)
Jam Keempat : Rp 34.682 (Rp 17.341 x 2)
Total                : Rp 130.057,-
Jadi Perusahaan yang bersangkutan harus membayar upah lembur sebanyak Rp 130.057 kepada operator tersebut.

Contoh Kasus II

Seorang operator produksi dengan gaji bulanan Rp 3.000.000,00 diminta oleh perusahaan melakukan Lembur (overtime) pada hari minggu selama 8 jam. Berapakah upah lembur yang harus dibayar oleh perusahaan ?

Upah Lembur per Jam : Rp 17.341 (Rp 3.000.000 / 173)
Jam Pertama sampai Jam ketujuh : Rp 242.774 (Rp 17.341 x 2 x 7)
Jam kedelapan                                   : Rp 52.023 (Rp 17.341 x 3)
Total : Rp 294.797,-
Jadi Perusahaan yang bersangkutan harus membayar upah lembur sebanyak Rp 294.797,- kepada operator tersebut.

Baca juga : Cara Menghitung Pendapatan Per Kapita

Simulasi Perhitungan Upah Lembur

Source:

perhitungan lembur depnaker 2017,perhitungan lembur,cara menghitung gaji lrmbur perjam,peraturan depnaker 2017,peraturan lembur depnaker 2017,hitungan lembur menurut depnaker 2017,hitungan lembur depnaker,contoh perhitungan lembur menurut depnaker,cara hitung lembur 4 5 jam,CAR MENGHITUNGGAJI BERDASARKAN LEMBUR PER JAM

Cara Menghitung Upah Lembur Yang Benar | caraharian | 4.5